Minggu, 22 Maret 2009

PANCA BALI KRAMA,25 mARET 2009

Ngayah identik dengan seva(pelayanan ), merupakan salah satu cara untuk pendekatan diri dengan yang maha Kuasa dalam wujud Visnu sebagai pemelihara dan pengendali alam ini...Om' Hari Ya Namahe.

Upacara Panca Bali Krama merupakan upaya prosesi keharmonisan alam, dari Pulau Bali kita melaksanakan prosesi tersebut....bukan main.
Seluruh Alam ini akan hadir di Pulau ini.... dari wujud nyata/cetana maupun tidak nyata /acetana, maka dari itu selain ngayah harap juga tingkat kecerdasan dan keintelektualitasan diri karena mereka akan selalu mengusik menggoda diri kita, kalau kita tidak bisa mengendalikan diri niscaya akan terjadi hal - hal diluar kesadaran kita/bahaya.....!
KKM, Pembunuhan, dsb ciri masuknya penggaruh disharmoni dari yang tidak nyata.
'''Dengan kekuatan aksara suci pranawa yang dianugrahkan Brahma/Saraswati Cakti, lihatlah dengan jelas melalui mata bathinmu tarian Ciwa Nata Raja/Durgha Murti disetiap sudut alam ini....sampai engaku dapat menikmati anugrah Ciwa Sankara dialam ini, jangan lupa pelihara alam ini dengan seva/pelayanan melalui save the planet/be vegen dengan anugrah Maha Visnu maka Engkau akan dapat hidup dialam ini dengan menyenangkan, bukan saja untuk diri sendiri tapi juga untuk yang lain/hewan dan tumbuhan.......
Om'Shanti Shanti Shanti ' Om

1 komentar:

  1. Hindu Hindu adalah sebuah agama dunia. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM.Terkait dengan inilah maka secara berkala di dalam ajaran agama Hindu khususnya di Bali perlu mengadakan upacara tawur, seperti PAnca Bali Krama................!!!!!! sekian dulu tentang sejarah, sekarang kita lanjut masalah ngayah..!!!!Ternyata kalau kita ngaturang ayah, ngaturang pengiring melasti ke segara Klotok yang bila dihitung jaraknya dari Pura Besakih yaitu sekitar 40 KM sangat jauh sekali kalau berjalan kaki. Salah satu unsur yang memperkuat diri saya sendiri untuk ngiring sampai tembus tiga hari adalah tiada lain KEYAKINAN. Dengan keyakinan yang yang tulus saya bisa berjalan sejauh 80 KM Pulang Pergi!!! wahh hebat bukann??, selain keyakinan saya juga sempat membaca lontar Indik Panca Bali Krama (PBK)yang berbunyi: Kayatnakna, aywa saula-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut linging aji. Nirgawe pwaranya kawalik purihnya ika, amrih ayu byakta atemahan hala. Mangkana wenang ika kaparatyaksa de sang anukangi, sang adiksani lan sang adrewe karya, ika katiga wenang atunggalan panglaksana nira among saraja karya.
    Aywa kasingsal, apan ring yadnya tan wenang kacacaban, kacampuhan manah weci, ambek branta, sabda parusya.
    Ikang manah stithi jati nirmala juga maka sidhaning karya, marganing amanggih sadya rahayu, kasidhaning panuju mangkana kengetakna. Estu phalanya.

    Maksudnya :

    Waspadalah, jangan sembarangan melangkah asal jalan saja, apabila tidak benar sesuai dengan ucap sastra agama. Pekerjaan sia-sia itu namanya, akan berbaliklah harapan yang diperoleh, berharap kebaikan, tetapi nyatanya menjadi tidak baik (buruk). Demikianlah patut selalu waspada bagi Tapini, Yajamana dan orang yang memiliki yadnya, ketiganya itu patut menyatukan pandangan dan langkah dalam mengendalikan semua pekerjaan (yadnya).
    Janganlah saling bertentangan, sebab dalam pelaksanaan yadnya tidak boleh ternodai, dicampuri oleh pikiran kotor, pikiran bimbang, kata-kata kasar. Pikiran yang suci dan tidak ternoda jualah yang mengantarkan keberhasilan suatu yadnya, sebagai jalan menemukan keberhasilan dan keselamatan, berhasil mencapai tujuan, demikianlah selalu diingat, semoga mendapatkan

    BalasHapus